Wednesday, Mar 10th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: About Joomla!

Siasati Elpiji Mahal dengan Biogas

E-mail Cetak PDF

MADIUN - Melihat fisiknya, mungkin kita akan merasa jijik. Namun, kotoran sapi bisa dikembangkan untuk energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar. Memelihara sapi, selain menguntungkan secara materi, juga membawa berkah lain bagi masyarakat kabupaten Madiun, dimana mereka bisa mendapatkan energi alami. Pasalnya, kotoran dari sapi-sapi peliharaan mereka kini bisa dimanfaatkan menjadi biogas. Biogas ini, selain dimanfaatkan untuk keperluan memasak, juga bisa digunakan untuk lampu penerangan.
Hal ini seperti dilakukan keluarga, Tukimin 60, warga Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Sebenarnya, tidak terlalu susah untuk membuat biogas dari kotoran sapi ini. Setiap hari, kotoran sapi dikumpulkan pada wadah tabung yang dibuat dalam tanah dengan ukuran tertentu. Nah, dari kotoran yang ditampung itu akan tercipta gas yang kemudian disalurkan menggunakan pipa atau selang ke dapur rumah warga sesuai kebutuhan. Sedangkan, ampas dari kotoran tersebut, bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk kandang.
Tukimin mengaku sudah memanfaatkan biogas dari kotoran sapi ini sejak setahun lalu. Hal ini dilakukannya setelah merasakan kejengkelan karena kerapnya mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah untuk keperluan dapurnya. Selain kian sulitnya mendapatkan minyak tanah, elpiji yang kemudian dijadikan alternatif harganya terus melambung, sehingga bagi petani seperti dirinya tidak sanggup untuk membelinya.
"Awalnya, saya kesulitan mendapatkan minyak tanah untuk memasak. Sedangkan harga elpiji kian tidak terjangkau oleh kami. Makanya, biogas ini, bisa dijadikan alternatif pengganti minyak tanah atau elpiji. Sebenarnya, perawatannya tidak susah, asal ada kemauan dan tidak takut kotor, semua orang bisa memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas," ujar Tukimin.
Tak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak saja, biogas juga bisa digunakan untuk bahan bakar lampu penerangan, sehingga cukup menghemat pemakaian listrik. Meski berasal dari kotoran sapi, tetapi biogas alami ini tidak menimbulkan bau apapun. Khususnya pada makanan yang dimasak menggunakan biogas tersebut. Selain murah, biogas alami ini juga tidak beresiko meledak seperti gas elpiji.
Menurut rencana, biogas yang awalnya hasil penelitian mahasiswa Malang ini akan dikembangkan secara swadaya oleh warga setempat. Sehingga dapat dipastikan, warga di desa ini tidak akan lagi terpengaruh dengan masalah kelangkaan minyak tanah maupun melambungnya harga gas elpiji. (kha)

Add comment


Security code
Refresh