Ponorogo – Berawal dari bantuan dan pembinaan para mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang pada tahun 2007 lalu yang melakukan uji coba pembuatan biogas berbahan dasar kotoran sapi (kletong), para peternak sapi di Desa Tajug kecamatan Siman Ponorogo sudah mengembangkan teknologi biogas sebagai pengganti LPG. Kotoran ternak yang sebelumnya hanya di pakai sebagai pupuk tambahan bagi pertanian warga sekarang sudah bisa sebagai bahan bakar alternative pengganti bahan baker minyak (BBM) maupun
Waktu dua tahun yang lalu mahasiswa dari Unibraw datang ke desa tersebut untuk uji coba pembuatan dan penerapan kotoran ternak menjadi bahan bakar alternative. Karena waktu itu mahisiswa tersebut untuk uji coba teorinya tersebut harus mencari peternak yang mempunyai sapi minimal untuk satu orang peternak 5 ekor sapi. Dan pada waktu itu mereka hanya menemukan 3 orang peternak yang memeiliki ternak sapi lebih dari 5 ekor. Maka ketiga warga tersebut yang mendapatkan prioritas uji coba. Tapi hal tersebut sebenarnya tidak mengurangi niat warga yang lain untuk sampai sekarang untuk melakukan hal yang sama seperti ketiga warga tersebut.
Seperti yang dijelaskan Suparwadi warga RT.III /RW. III dukuh Krajan desa setempat yang mengaku kalau 2 tahun yang lalu pihak mahasiswa Unibraw melakukan uji coba biogas tersebut dank arena syarat kepemilikan ternak pada waktu itu menurut keterangan pihak mahasiswa minimal satu orang pelihara 5 ekor sapi baru kotorannya bias di manfaatkan untuk BBM alternative. Dan ia lah satu dari ketiga warga yang mendapatkan prioritas itu. “Saya di buatkan biaya dari Unibraw sedang saya hanya untuk mengelola kalau ini saya sia-siakan ya saying,” jelasnya.
Semenjak dirinya di buatkan tempat pengolahan kotoran ternak menjadi biogas dua tahun yang lalu Supar panggilan akrab Suparwadi dan keluarganya sudah tidak pernah beli minyak tanah dan sudah di tinggalkannya mencari kayu bakar di hutan. Karena dirinya sudah tidak menggunakan kayu dan kompor minyak, “semenjak dua tahun yang lalu keluarga saya sudah tidak memakai kayu dan kompor minyak, selain irit pengeluaran keluarga ternyata sisa limbah dari proses tersebut masih dapat di pakai pupuk,” tukas Supar.
Hal yang sama juga di alami Dukut 60, warga RT. I / RW.III dari desa setempat dirinya membenarkan sangat beruntung mendapatkan bantuan peralatan tersebut, karena biaya pembuatan tersebut untuk satu lokasi saja menurutnya bias habis antara 10 – 15 juta. Jadi beratnya warga lain untuk meniru pembuatan system itu harus mengeluarkan dana sebesar perkiraan itu. “ Sebenarnya irit mas tapi hanya biayanya itu lo yang kalau hanya buat sendiri sangat besar, “ ungkapnya.
Pihak keluarga Dukut sangat beruntung karena sudah dua tahaun tidak menggunakan kayu dan kompor minyak. Dirinya juga mengakuhi kalau hal tersebut sangat irit, ramah lingkungan serta aman. “ memakai biogas ini sangat membantu penghematan keuangan dan ramah lingkungan karena sisa pembuangan kotoran setelah di ambil gasnya tidak bau kotoran ternak , serta biogas ini tidak bisa meledak seperti gas elpigi,” tegasnya.
Sampai saat ini menurut Dukut pemakaian biogas dari kotoran ternak tersebut sangat ekonomis dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Yaitu dapat mengurangi pembelian atau belanja BBM karena sudah terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak yang di pelihara, kalau yang biasa harus mencari kayu baker ke hutan maka kalau memakai biogas waktunya bisa dipakai untuk kegiatan yang lain , kotoran ternak menjadi berharga sehingga pemakai biogas menjadi rajin merawat ternaknya yang akhirnya kebersihan kandang selalu di perhatikan, dan sisa dari pembuangan proses pembuatan biogas masih dapat di pakai untuk pupuk organic .
Pihaknya menjelaskan cara mengoprasikan kompor yang dari bahan bakar biogas ini. Sangatlah mudah karena untuk melihat gas penuh atau habis ini tinggal melihat selang yang di pasang mirip huruf ‘U’ yang di isi air memenuhi kedua ujungnya, yang cara kerja selang seperti waterpass bila permukaan air dalam selang tersebut sama rata maka gas yang ada dalam tabung penampungan kotoran habis dan bila permukaan air tadi tinggi sebelah maka gas masih ada serta yang di pakao patokan angka 50 ( air dalam ujung selang harus waktu kosong gasnya dalam posisi sejajar di angka 50 bila salah satu ujung selang airnya di atas angka 50 berarti gas masih dan itu sebaliknya). Dan bila gas habis maka tinggal isi kotoran lagi. Dan menurutnya untuk menghidupkan kompor harus di dulut dulu pakai korek api. Karena biogas tidak langsung nyala.
Selain proses yang cukup praktis nyala kompor gas berbahan baker Biogas tersebut jauh lebih bagus karena menurutnya tidak menimbulkan asap. Baik Supar maupun Dukut berharap agar para peternak sapi baik tetangganya sendiri maupun yang di daerah lain mau mengikuti jejak dirinya untuk mengolah kotoran sapi menjadi Biogas. Sehingga masyarakat tidak bergantung pada bahan baker minyak dan gas elpigi yang semakin langka ini. (mal)
Profile desa
Peternak Sapi Kembangkan Biogas Berbahan Dasar Kletong
Peternak Sapi Kembangkan Biogas
Ponorogo – Berawal dari bantuan dan pembinaan para mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang pada tahun 2007 lalu yang melakukan uji coba pembuatan biogas berbahan dasar kotoran sapi (kletong), para peternak sapi di Desa Tajug kecamatan Siman Ponorogo sudah mengembangkan teknologi biogas sebagai pengganti LPG. Kotoran ternak yang sebelumnya hanya di pakai sebagai pupuk tambahan bagi pertanian warga sekarang sudah bisa sebagai bahan bakar alternative pengganti bahan baker minyak (BBM) maupun
Waktu dua tahun yang lalu mahasiswa dari Unibraw datang ke desa tersebut untuk uji coba pembuatan dan penerapan kotoran ternak menjadi bahan bakar alternative. Karena waktu itu mahisiswa tersebut untuk uji coba teorinya tersebut harus mencari peternak yang mempunyai sapi minimal untuk satu orang peternak 5 ekor sapi. Dan pada waktu itu mereka hanya menemukan 3 orang peternak yang memeiliki ternak sapi lebih dari 5 ekor. Maka ketiga warga tersebut yang mendapatkan prioritas uji coba. Tapi hal tersebut sebenarnya tidak mengurangi niat warga yang lain untuk sampai sekarang untuk melakukan hal yang sama seperti ketiga warga tersebut.
Seperti yang dijelaskan Suparwadi warga RT.III /RW. III dukuh Krajan desa setempat yang mengaku kalau 2 tahun yang lalu pihak mahasiswa Unibraw melakukan uji coba biogas tersebut dank arena syarat kepemilikan ternak pada waktu itu menurut keterangan pihak mahasiswa minimal satu orang pelihara 5 ekor sapi baru kotorannya bias di manfaatkan untuk BBM alternative. Dan ia lah satu dari ketiga warga yang mendapatkan prioritas itu. “Saya di buatkan biaya dari Unibraw sedang saya hanya untuk mengelola kalau ini saya sia-siakan ya saying,” jelasnya.
Semenjak dirinya di buatkan tempat pengolahan kotoran ternak menjadi biogas dua tahun yang lalu Supar panggilan akrab Suparwadi dan keluarganya sudah tidak pernah beli minyak tanah dan sudah di tinggalkannya mencari kayu bakar di hutan. Karena dirinya sudah tidak menggunakan kayu dan kompor minyak, “semenjak dua tahun yang lalu keluarga saya sudah tidak memakai kayu dan kompor minyak, selain irit pengeluaran keluarga ternyata sisa limbah dari proses tersebut masih dapat di pakai pupuk,” tukas Supar.
Hal yang sama juga di alami Dukut 60, warga RT. I / RW.III dari desa setempat dirinya membenarkan sangat beruntung mendapatkan bantuan peralatan tersebut, karena biaya pembuatan tersebut untuk satu lokasi saja menurutnya bias habis antara 10 – 15 juta. Jadi beratnya warga lain untuk meniru pembuatan system itu harus mengeluarkan dana sebesar perkiraan itu. “ Sebenarnya irit mas tapi hanya biayanya itu lo yang kalau hanya buat sendiri sangat besar, “ ungkapnya.
Pihak keluarga Dukut sangat beruntung karena sudah dua tahaun tidak menggunakan kayu dan kompor minyak. Dirinya juga mengakuhi kalau hal tersebut sangat irit, ramah lingkungan serta aman. “ memakai biogas ini sangat membantu penghematan keuangan dan ramah lingkungan karena sisa pembuangan kotoran setelah di ambil gasnya tidak bau kotoran ternak , serta biogas ini tidak bisa meledak seperti gas elpigi,” tegasnya.
Sampai saat ini menurut Dukut pemakaian biogas dari kotoran ternak tersebut sangat ekonomis dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Yaitu dapat mengurangi pembelian atau belanja BBM karena sudah terpenuhi kebutuhannya dari kotoran ternak yang di pelihara, kalau yang biasa harus mencari kayu baker ke hutan maka kalau memakai biogas waktunya bisa dipakai untuk kegiatan yang lain , kotoran ternak menjadi berharga sehingga pemakai biogas menjadi rajin merawat ternaknya yang akhirnya kebersihan kandang selalu di perhatikan, dan sisa dari pembuangan proses pembuatan biogas masih dapat di pakai untuk pupuk organic .
Pihaknya menjelaskan cara mengoprasikan kompor yang dari bahan bakar biogas ini. Sangatlah mudah karena untuk melihat gas penuh atau habis ini tinggal melihat selang yang di pasang mirip huruf ‘U’ yang di isi air memenuhi kedua ujungnya, yang cara kerja selang seperti waterpass bila permukaan air dalam selang tersebut sama rata maka gas yang ada dalam tabung penampungan kotoran habis dan bila permukaan air tadi tinggi sebelah maka gas masih ada serta yang di pakao patokan angka 50 ( air dalam ujung selang harus waktu kosong gasnya dalam posisi sejajar di angka 50 bila salah satu ujung selang airnya di atas angka 50 berarti gas masih dan itu sebaliknya). Dan bila gas habis maka tinggal isi kotoran lagi. Dan menurutnya untuk menghidupkan kompor harus di dulut dulu pakai korek api. Karena biogas tidak langsung nyala.
Selain proses yang cukup praktis nyala kompor gas berbahan baker Biogas tersebut jauh lebih bagus karena menurutnya tidak menimbulkan asap. Baik Supar maupun Dukut berharap agar para peternak sapi baik tetangganya sendiri maupun yang di daerah lain mau mengikuti jejak dirinya untuk mengolah kotoran sapi menjadi Biogas. Sehingga masyarakat tidak bergantung pada bahan baker minyak dan gas elpigi yang semakin langka ini. (mal)
Profile desa


