Thursday, Mar 11th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: Pendidikan Sidowayah, Selenggarakan Sekolah Inklusif Pertama

Sidowayah, Selenggarakan Sekolah Inklusif Pertama

PONOROGO – Dusun Sidowayah yang selama ini dicap sebagai kampung idiot, merupakan kampung pertama kali yang menyelenggerakan sekolah inklusif,  yaitu sekolah yang diperuntukkan untuk semua kalangan, baik mereka yang normal atau yang mengalami keterbelakangan mental.Derita panjang Sidowayah Desa Sidoharjo Jambon Ponorogo yang mayoritas penduduknya mengalami keterbelakangan mental (idiot) menjadi landasan utama diterapkannya sistem sekolah Inklusif yang diselenggarakan di SDN IV Krebet yang berada di Dusun Sidowayah. Karena dari data yang ada, sampai sekarang masih tercatat sebanyak 225 orang mengalami keterbelakangan mental.

Penyelenggaraan sekolah inklusif dan pemakaian kelas inklusif di SDN tersebut langsung diresmikan oleh Dr. Eko Jatmiko, Kom. Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa (PSLB) Departemen Pendidikan Nasional.
“Ponorogo mempunyai gagasan yang cukup bagus untuk menyelenggarakan sekolah inklusif, ini bisa ditiru oleh daerah-daerah lain,” jelas Eko yang dikonfirmasi usai peresmian.
Pendidikan bagi semua kalangan dan semua lapisan masyarakat, tambahnya, merupakan amanat undang-undang yang dilaksanakan. “Semua orang, termasuk orang yang menurut kita tidak normal, juga berhak mengenyam pendidikan,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Ponorogo, Muhadi Sujono yang ikut mendampingi, menjelaskan bahwa sekolah inklusif di SDN IV Krebet Sidowayah merupakan embrio sekolah inklusif pertama di Ponorogo. “Ini pertama dan merupakan embrio, diharapkan daerah lain juga meniru,” ucap Muhadi.
Menurut Sugiyanto, Kepsek SDN IV Krebet, dengan diselenggarakannya sekolah inklusif, maka sekolah bisa menerima murid dari berbagai kelangan, termasuk mereka yang menderita keterbelakangan mental. “Kalau sekolah biasanya kan hanya menerima orang yang normal saja, tetapi dengan sekolah inklusif, mereka yang mengalami kesulitan baca tulis, juga bisa masuk di sini,” ujar Sugiyanto.
Sedangkan murid yang masuk dalam kelas inklusif, paparnya, berjumlah 22 orang. “Mereka adalah murid yang mengalami sulit baca dan tulis, untuk kelasnya hanya satu ruang,” katanya. Dijelaskannya, pada pagi hari semua murid (termasuk murid kelas inklusif) mengikuti jam pelajaran/kelas seperti murid yang lainnya. “Nah, pada sore harinya mereka belajar khusus di kelas inklusif tersebut,” tambahnya.
Untuk tenaga pengajar, menurut Sugiyanto, selama ini masih memanfaatkan guru kelas yang ada. “Gurunya terdiri dari satu guru kelas, dan dua orang lainnya dari masyarakat,” ujarnya.
Ditemui terpisah, Sulyono, tokoh masyarakat setempat mengaku senang dengan diselenggarakannya sekolah inklusif tersebut. “Ini merupakan langkah yang sangat bagus, utamanya untuk pendidikan warga Sidowayah, awalnya mereka yang mengalami keterbelakangan mental tidak bisa sekolah di SDN IV Krebet, tetapi dengan sekolah inklusif ini, akhirnya mereka bisa,” papar Sulyono.
Diharapkan dengan sekolah inklusif yang diterapkan di Sekolah Dasar tersebut, bisa menjadikan Sidowayah yang dicap sebagai kampung idiot menjadi lebih baik. “Kreativitas warga Sidowayah bisa meningkat lagi,” tukas pria yang juga ketua Forum Sidowayah Bangkit (FSB) ini. (azi).

 

 

Add comment


Security code
Refresh