Wednesday, Mar 10th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: Pendidikan Dewan Pendidikan : Sekolah Tak Berkwalitas Masih Dibutuhkan

Dewan Pendidikan : Sekolah Tak Berkwalitas Masih Dibutuhkan

PONOROGO –  Saat sekolah atau yayasan masih menggunakan guru yang hanya tamatan SMA, ‘tidak memperhatikan kwalitas’ atau ‘sekolah tak berkwalitas’ dianggap pantas menjadi label bagi mereka. Itu menjadi persoalan pendidikan di tengah persoalan-persoalan pendidikan yang lain. “Itu persoalan yang sudah lama,” ungkap Ali Yadi, sekretaris Dewan Pendidikan Ponorogo.
Menurutnya, keadaan tersebut menjadi persoalan yang cukup rumit. Kalau dihadapkan pada kwalitas pendidikan, tentunya guru yang hanya tamatan SMA tidak mempunyai kualifikasi mengajar secara professional. Di sisi lain, kata Ali yadi, yayasan atau sekolah yang mempekerjakan guru yang hanya tamatan SMA masih dibutuhkan masyarakat. “Karena biayanya murah, bahkan gratis, makanya sebagian masyarakat utamanya yang ekonomi menengah ke bawah butuh dan menerima keberadaan sekolah itu,” jelasnya.
Masyarakat, utamanya masyarakat ke bawah, katanya, saat ini tidak terlalu memikirkan apa itu kwalitas, mereka lebih berfikir pendidikan murah, bahkan gratis. “Keberadaan yayasan seperti itu tidak bisa dinafikan, masyarakat masih butuh dan merasa terbantu,” imbuhnya.
Dijelaskannya, kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, belum mengarah pada kwalitas. “Persoalan pendidikan kita saat ini adalah pada pembebasan buta huruf, peningkatan label dari SMP ke SMA sampai ke tingkat sarjana, ketiga adalah penampungan pengangguran,” pungkasnya.
Pada akhirnya, paparnya, semuanya kembali kepada masyarakat yang memilih. “Masyarakat bisa memilih sendiri, kalau memang mereka tidak mau pada guru yang hanya tamatan SMA, mereka bisa memilih lembaga lain,” jelasnya.

Ditemui terpisah, Puryono, anggota DPRD Ponorogo, menjelaskan bahwa kondisi masyarakat yang tidak ‘peduli’ akan kwalitas pendidikan tidak bisa digenelarisir dan selanjutnya dijadikan alasan untuk membiarkan sekolah atau yayasan untuk tidak memperhatikan kwalitas pendidikan. “Kalau dikatakan seperti itu masyarakat yang mana,  mereka tahu gak bagaimana proses pendidikan,” katanya. Dikhawarirtkan, mereka yang seolah tidak mempersoalkan kwalitas pendidikan tidak tahu bagaimana proses pendidikan yang sedang berlangsung. “Dalam hal ini masyarakat harus tahu tentang proses itu, pada akhirnya mereka bisa menilai,” tukasnya.

Sementara itu, Athok Fuadi, dosen PGMI STAIN Ponorogo menganggap bahwa fenomena guru SMA yang masih ngajar dianggap sebagai hal yang wajar. “Kalau bagi yang sudah sepuh, lama mengajar, walaupun mereka hanya tamatan SMA gak apa-apa ngajar, karena ilmu mereka ditunjang dengan pengalaman mengajar,” jelas Athok Fuadi.
Sementara bagi yang masih muda, yang nota bene masih (baru) kuliah, Athok menilai hal itu masih bisa ditolerer. “Karena mereka belajar sambil praktek, justru itu saling membantu, mereka tidak hanya belajar teori, apa yang ia dapat bisa dipraktekkan di lapangan, jadi bisa seimbang antara teori dan praktek,” pungkasnya. (azi)

Comments  

 
0 #1 deni 2009-12-14 03:03
buat gru yang tamatan sma mendingan segera mundur aja heheheh.capek deh klo gurunya tamatan sma trus ngajar sma....
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh