Thursday, Mar 11th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: Pertanian Pupuk Paket Beratkan Petani

Pupuk Paket Beratkan Petani

E-mail Cetak PDF

WASKITA-Musim tanam kali ini kembali membuat para petani miris. Belum lagi terhantui langkanya dan mahalnya harga pupuk, beban petani terus bertambah dengan diperlakukannya sistem paket dalam pembelian pupuk. Petani diharuskan membeli pupuk dalam bentuk paket, yang terdiri dari pupuk Urea, ZA dan pupuk organic, yang masing-masing satu zak.
Sejumlah petani, apalagi petani kecil yang hanya memiliki lahan pertanian yang relatif sempit (sediki) resah, karena kebutuhan pupuk mereka tidak sesuai dengan sistem paket yang ditetapkan pemerintah ini, karena tidak jarang salah satu jenis pupuk dalam satu paket tersebut tidak terpakai. Namun karena sistem paket, maka petani mau tidak mau harus membelinya karena sistem paket tersebut.  
Seperti yang di alami Mesri ketua kelompok tani dari Desa Wayang Pulung , dirinya mengeluh karena tidak bisa membeli pupuk sesuai dengan lahan yang mereka miliki. “Kalau dengan sistem paket terpaksa kita membeli pupuk sesuai dengan kelipatannya, padahal kebutuhan pupuk kan di sesuaikan dengan luas lahan,” terangnya.
Suroto warga Duri Slahung mengaku pembelian pupuk dengan sistem paket sangat memberatkan petani karena kondisi petani sangat variatif, sesuai dengan ahan yang dimilikinya. “Petani kita kan banyak yang hanya buruh tani bukan pemilik lahan yang luas, kalau harus beli paket sangat keberatan dan kadang ada yang tidak memerlukan pupuk organik karena mereka sudah memiliki pupuk kandang dari hasil ternaknya masing-masing,” ungkapnya.
Hal senada juga diutarakan Yakun , Ketua kelompok Tani  Sidomulyo Pulung. Ia juga merasakan keluhan adanya sistem paket. Ia mencontohkan, di daerah Pulung rata-rata petani tidak memerlukan pupuk organik, karena sudah memiliki pupuk kandang. “Untuk pupuk organik sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkan mas, karena dari pupuk kandang saja sudah cukup, kan mubadzir,” tuturnya.
Meskipun para petani bisa membeli pupuk sesuai dengan kebutuhannya, tetapi, kata Yakun hal itu tetap memberatkan petani, karena harga pupuk di tingkat pengecer lebih mahal. “Kita bisa beli ngecer sesuai dengan pupuk yang akan kita butuhkan tapi harganya bisa-bisa dua kali lipat,” ungkapnya.
Begitu juga Trimo Kepala Desa Tosanan Kauman. Ia mengaku sangat prihatin mendengar keluhan petani yang keberatan dengan adanya sistem paket untuk pembelian pupuk. Mengingat warga Tosanan yang mayoritas lahan pertaniannya rata-rata tidak luas dan mereka kebanyakan buruh tani. “Sistem paket ini sangat memberatkan para warga kami yang lahan pertaniannya tidak luas karena satu zak pupuk saja tidak habis kok harus beli satu paket, kalau bisa aturan ini yang fleksibel,” tegasnya.
Sementara Heru Purwanto Kabag Humas Pemkab Ponorogo ketika di konfirmasi Waskita di ruang kerjanya mengaku pihaknya masih hendak konfirmasi ke Indakop yang sementara ini masih banyak tugas luar. Menurutnya suatu kebijakan sebelum ditetapkan sudah melalui survei mendalam terlebih dahulu. “Mengingat sistem pembelian pupuk dengan ssistem paket tersebut merupakan kebijakan, dan kebijakan itu sebelum ditetapkan sudah pasti melalui survei terlebih dahulu, kadang penyampaiannya saja ke petani yang kurang jelas atau petani yang kurang paham,” tukasnya. (mal).

Add comment


Security code
Refresh