Wednesday, Mar 10th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: Pertanian Pertanian Naga Merah Cukup Menjanjikan

Pertanian Naga Merah Cukup Menjanjikan

E-mail Cetak PDF

Ponorogo– Buah Naga Merah (Dragon Fruit) atau Hylocereus Costaricensis merupakan buah dari tanaman yang berjenis kaktus yang berasal dari Mexico, yang mempunyai sulur batang yang tumbuh menjalar , batangnya berwarna hijau dan berbentuk segitiga. Buah Naga termasuk pendatang baru yang cukup populer karena penampilan buahnya yang eksotik, rasanya asam manis. Pendatang baru  yang bentuknya unik dan warna merah yang mencolok ini sekarang mulai dibudidayakan di Kecamatan Sooko kabupaten Ponorogo tepatnya di desa Juruk, Suru, Klepu dan Desa Sooko.

Desa tersebut diatas sangat berpotensi untuk pertanian buah naga merah, karena struktur tanah dan cuaca yang sangat mendukung. Suhu di Sooko yang sedang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Cukup mudah untuk menanam buah yang satu ini, cukup dengan disetek (disempel) batangnya yang menjulur seperti kalau hendak menanam bunga kaktus biasa. Apalagi , tanaman holikultural pendatang baru ini hasilnya cukup menjanjikan, dijamin akan meraih keuntungan yang cukup besar bagi sang petaninya.

Alasan lainnya, tanaman buah naga merah ini bisa bertahan sampai 20 tahun dan berbuah sepanjang tahun, tidak memerlukan pupuk kimia, cukup dengan pupuk organic atau pupuk kandang (kompos). Jemadi warga Desa Jurug kecamatan Sooko, orang pertama kali mengenalkan dan membudidayakan buah naga merah menuturkan bahwa budidaya naga merah sangat mudah, tidak mengenal penyakit, dan hasilnya cukup bagus. “Buah naga merah ini tanam dan perawatannya sangat mudah karena hanya cukup dengan menyempel batang atau tunasnya lalu ditancapkan langsung hidup dan pupuknya hanya organic,” tuturnya. Selain keuntungan yang didapat nantinya cukup bagus, tambahnya, naga merah juga bisa dijadian tanaman hias di depan rumah.

Memang ia mengakui, biaya awal pertanian jenis yang satu ini cukup tinggi, yakni untuk membeli benih dan pembuatan tiang yang terbuat dari semen (cor). “Memang biaya awalnya tinggi, harga benihnya Rp 10ribu per-pohon, selain itu, harus memakai pancang (lanjaran, Jawa) yang terbuat dari semen cor,” terang Jemadi kepada Waskita. Karena, katanya, kalau memakai kayu atau jenis lainnya cepat rusak, dan kalaupun mau ganti lanjaran nantinya akan merusak batang naga merah tersebut.

Jemadi menceritakan, awalnya ia mempunyai 300 pancang, masing-masing terdiri dari 4 pokok batang naga merah. Diperkirakan, masing-masing lanjaran bisa menghasilkan 5 kg buah naga, dengan harga Rp 20ribu/kg. Saat ini naga merah miliknya sudah berusia 4,5 tahun, dan untuk panen buah naga membutuhkan waktu satu tahun setengah. “Jadi kita tinggal ngalikan aja,” ujarny bangga.
Maka tidak heran, kalau ia mengatakan bahwa kalau sudah bisa memanen naga merah dua kali saja, modal awal sudah kembali. “Seperti saya dulu, modal pertama 12 juta untuk benih dan anggaplah 12 juta lagi untuk biaya pembuatan lanjaran dari cor. Ternyata dua kali panen, saya sudah mendapatkan 24 juta bersih,” jelas Jemadi semangat.

Memang awal pengenalan hasil panen buah naga tersebut, Jemadi harus memasarkannya sendiri, namun saat ini sudah ada yang memesannya. “Karena sudah banyak yang tahu dan paham manfaatnya, sekarang sudah banyak yang pesan, jadi tidak perlu keliling sendiri,” ungkap pria yang juga pengurus Koperasi susus segar ini.

Meskipun sangat menjanjikan, menurut Jemadi, saat ini di Sooko baru ada sekitar 12 petani buah naga merah. “Mungkin mereka tidak berani spekulasi, karena modal awalnya tinggi, sebenarnya kalau berani spekulasi bagus sekali,” tukasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sumaji warga RT. I / RW.II Dukuh Pokongan Desa Suru yang sudah mulai melirik budidaya naga merah ini. “Saya pengin mas melihat hasil panen pak Jemadi karena sekali panen jutaan dan setiap tiga hari sekali dia panen, saya sekarang mencoba tanam 300 pancang dan tiap pancang ada 4 batang, ini baru berusia 3 bulan,” ujar pria yang sebelumnya bisnis di bidang meubeler ini.

Bahkan, Kepala Desa Sooko Wahyu Hadi sudah 2.5 tahun membudidayakan buah naga merah ini. "Memang untuk budidaya ini harus orang yang berani spekulasi karena biayanya awalnya tinggi, semenjak dari beli benih sampai pembuatan pancang dari cor," jelas Wahyu yang sudah merasakan manisnya budidaya naga merah ini.

Sementara untuk pemesaran, Wahyu tidak ada kendala sedikitpun. Bahkan buah yang masih hijau atau panen kurang satu minggu sudah ada yang pesan, baik dari tetangga buat oleh-oleh maupun buat obat, atau pemesan dari luar Ponorogo. “Bahkan dari Jakarta juga ada, katanya harga di Sooko lebih murah," paparnya. (mal).

Add comment


Security code
Refresh