Thursday, Mar 11th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: UKM UKM

UKM

Manusia Kerdil, Berjalan Tanpa Kaki

E-mail Cetak PDF

Ponorogo – Keterbatasan fisik tidak bisa menghalanginya untuk tetap bersemangat menatap hidup dan masa depan. Keterbatasan fisiknya justru membuat pria warga Blog Glunduk Dusun Muneng Desa Munggu kecamatan Bungkal Ponorogo lebih bersemangat menghadapi tantangan hidup. Dialah Kadimun 34, seoarang penderita cacat fisik yang disebabkan kelainan pertumbuhan tulang.  Pertumbuhan badannya tidak seperti orang kebanyakan, kaki dan tangannya mengecil dan badannya terlihat bungkuk, sehingga orang umum menyebutnya dia manusia kerdil.  
Keterbatasan fisiknya, tidak membuat Kadimun minder atau rendah diri, dirinya dengan ramah menyapa setiap orang yang dikenal atau pun yang baru di kenalnya. Itulah yang terkesan saat Waskita menyambangi rumahnya. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tercipta saat pertama dirinya menyapa Waskita.

Jangan dilihat dari fisiknya, meski dengan segala keterbatasan yang di milikinya Kadimun memeiliki keinginan dan semangat besar untuk lebih berarti bagi orang lain dan memebahagiakan orang lain. Tidak heran meskipun secara luas jarang di kenal orang, namun di Desa Munggu tidak ada seorangpun yang tidak mengenalinya. Mulai dari orang dewasa hingga anak kecil sekalipun sosok Kadimun adalah teman bagi mereka.

Di depan rumahnya, ia hanya bisa duduk di atas dua kaki kecilnya yang kaku itu, sambil berbincang-bincang dengan Waskita.  Ia  mulai bercerita panjang lebar kisah hidupnya, tanpa ada yang  ditutup-tutupi. Sembari tangannya tidak pernah berhenti bergerak mengerjakan pekerjaannya membuat dipan/lincak kecilnya.

Kadimun tidak merasa berbeda dari orang lain, bahkan kemampuannya mungkin lebih dibanding sebagian orang yang normal, dirinya menguasai berbagai keterampilan pertukangan dan kerajinan anyaman. “Apapun saya bisa mengerjakannya, cuma berjalan yang saya tidak bisa,” ujar kadimun diikuti tawa ranyahnya.

Di teras rumahnya itulah, anak ke tiga dari empat bersaudara pasangan Sawal dan Mariem selalu menghabiskan waktu untuk membuat karyanya, dengan peralatan sederhana yang sebagian dia buat sendiri. Sebuah palu dari kayu (pethel, Jawa), pahat, ballpoint serta tongkat bamboo yang berfungsi untuk mengambil sesuatu yang tidak bisa dijangkaunnya.

Pria yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah itu mengaku pernah membuat tas dari annyaman plastik, sangkar burung dan masih banyak lagi, namun karyanya itu dengan ikhlas diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya, bahkan dirinya menawarkan keahiannya kepada orang lain. “Semua orang itu sama, tidak ada bedanya meskipun keadaan saya seperti ini,” ujarnya ikhlas.

Kini setiap pagi Kadimun selalu sendiri, kedua orang tuanya harus rela meninggalkannya sendiri karena harus pergi ke sawah untuk mencari rumput. Untuk membunuh rasa sepi itu, Kadimun juga memelihara ikan sungai pemberian temannya di dalam kolam yang ia buat sendiri.  Sebenarnya, bukan hanya dia yang mengalami kelainan fisik, Rianti adik kandungnya juga mengalami hal yang sama, namun sudah meninggal tiga tahun yang lalu.

Awalnya, baik Rianti maupun Kadimun, dilahirkan dalam kondisi normal, entah apa penyebabnya pada usia 7 bulan pertumbuhan mereka berhenti. "Waktu dilahirkan mereka juga normal mas, namun pada umur 7 bulan perkembangannya berhenti, kemudian tidak bisa berjalan, " ujar Katinem yang sejak kecil merawat dua keponakanya itu.

Kadimun hidup dalam keluarga yang sederhana dari penghasilan sebagai petani. Ironisnya, hingga menginjak usia 35 tahun ini, dirinya mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. "Belum pernah saya mendapat bantuan dari pemerintah mas, bahkan karena tidak memiliki KTP akhirnya pada pembagian BLT kemarin saya juga tidak dapat," ujarnya tanpa penyesalan.

Saat ditanya permintaan apa yang diharapkan kepada pemerintah, Kadimun hanya memiliki permintaan yang sederhana, yakni kursi roda. Alasanya dirinya pernah mau diberikan bantuan kursi roda, namun akhirnya gagal. Maka dari itu, hingga kini dirinya terus mengharap bantuan kursi roda itu "Saya hanya ingin kursi roda untuk berjalan, dulu pernah ada perangkat desa yang mengusahakan namun bantuan itu gagal, " paparnya berharap.

Meski dalam keadaan terbatas,  Kadimun tetap bersyukur, secara  rutin ia melakukan ibadah puasa Senin dan Kamis. Dalam doanya ia  meminta kepada Tuhan,  keselamatan dan selalu di beri kekuatan.  "Saya sering menjalankan puasa mas, saya meminta kepada tuhan agar di beri keselamatan, kesehatan dan kekuatan," tuturnya.

Sementara itu, Darminto Kepala Desa setempat yang ditemui terpisah, berharap agar pemerintah terkait tergugah untuk membantu Kadimun. "Diharapkan pemerintah atau dinas terkait tergugah untuk membantu Kadimun," terang Darminto. (hid).

LAST_UPDATED2

Kampung Jamu Ponorogo

E-mail Cetak PDF

WASKITA- Kalau Kelurahan Setono Kota Ponorogo terkenal dengan sebutan  ‘kampung sate’, maka Desa Jebeng Slahung Ponorogo dikenal dengan ‘kampung jamu’. Disebutnya kampung jamu, karena dalam satu gang di daerah tersebut semuanya berprofesi sebagai penjual jamu.
Berawal dari masa tiga dasanan (30 tahun) yang lalu, peracik dan penjual jamu godokan (rebus) atau beras kencur yang berasal dari Solo Jawa Tengah, datang ke Jebeng guna mengembangkan usahanya dalam bisnis jamu racikan godokan. Berangkat dari itulah, warga sekitar belajar kepada tiga penjual jamu yang bermukim di tempat tersebut.
Karena rajin dan telaten belajar, akhirnya, warga setempat bisa menguasai cara pembuatan jamu godok, dan warga bisa mandiri untuk berjualan sendiri. Sampai saat ini, di Desa Jebeng, tepatnya di Dukuh Karangan, tercatat sedikitnya 15 orang peracik dan penjual  jamu beras kencur, yang masing-masing sudah bisa eksis dan memiliki pelanggang maupun wilayah dagang sendiri.

Hasil bisnis yang awalnya hanya beberapa orang saja ini sudah bisa bisa dirasakan oleh warga setempat. Secara ekonomi, mereka sangat terbantu dengan berjualan jamu beras kencur ini. Mereka bisa menyekolahkan putera-puterinya sampai ke jenjang perguruan tinggi dengan bisnis jamu ini.

Seperti pengakuan Semi 49, warga RT. II/ RW. II Dukuh Karangan Desa Jebeng yang sehari harinya jualan jamu beras kencur keliling dari desa satu ke desa lainya. Menurutnya bisnis tersebut tidaklah berat dan tidak memakan waktu lama karena dalam seharinya ia hanya membutuhkan waktu 3-4 jam untuk keliling berjualan.  Dalam sehari, Semi bisa menghabiskan jamu minimal 24 liter.“Jualan jamu ini tidak lama kok mas, hanya 3-4 jam saya bawa 24 liter paling sedikit sudah habis, jadi mulai jam 7.30 pagi jam 11 atau jam 12 saya sudah dirumah,” tutur wanita yang berjualan jamu sejak tahun 1980 ini.

Kini, Semi tidak lagi susah payah menggendong jamunya seperti dahulu, namun ia menggunakan obrok dengan memakai sepeda. Selain lebih cepat, dirinya tidak perlu susah payah menggendong jamu. “Saya takut bungkuk mas kalau sudah tua nanti, jadi sekarang saya keliling dengan obrok di sepeda,” ungkapnya. Ia merasa bangga dan bersyukur dengan profesinya ini, karena hal itu sudah bisa mengangkat derajat keluarganya. “Dengan jualan jamu ini, saya bisa menyekolahkan kedua anak saya sampai ke perguruan tinggi dan yang satu sudah di angkat jadi PNS,” ujarnya senang.

Begitu juga Painah warga RT.3/ RW.II yang sudah 27 tahun menekuni peracik jamu beras kencur tersebut. Menurutnya, meskipun warga sini terkenal dengan jamu beras kencur tapi yang dijual tidak hanya beras kencur melainkan ada banyak jenis jamu racikan dan godokannya, seperti beras kencur, pahitan, param, jamu puyang, suruh, luntas serta sari daun kates gantung, yang semuanya dari bahan alami. “Untuk jamu dari sini tergantung pelanggan, kalau ibu yang habis melahirkan biasanya minta jamu sari daun luntas dan daun pepaya gantung, kadang-kadang juga minta sari daun suruh untuk perawatan organ kewanitaan atau bau keringat,” jelasnya.

Hal yang sama juga di sampaikan Tukinah 48, Warga Dukuh Karangan yang masih satu desa dengan Semi, Ia mengaku jualan jamu godokan atau beras kencur ini ditekuni sejak tahun 1976 (33 tahun). Ketka di jumpai Waskita di Pasar Bungkal, ia mengaku awalnya bisa membuat jamu karena belajar dari warga Solo yang kontrak rumah di dekat rumahnya. “Ilmu membuat jamu ini saya dapat dari orang Solo yang mondok di dekat rumah saya,” ungkapnya.

Dalam menjajakan jamunya, dirinya sudah tidak keliling lagi, melainkan berjualan dari pasar ke pasar yang lain, seperti pasar Bungkal dan pasar Brambang Duri Slahung. “Saya sudah tidak jualan keliling, hanya dalam pasar saja dan pelanggan jamu saya sudah tinggal mengambil ke pasar di mana saya jualan,” akunya

LAST_UPDATED2

Omzet Perajin Caping Naik Hingga 100 Persen

E-mail Cetak PDF

MAGETAN - Kesibukan musim hujan atau musim tanam tidak hanya dimiliki oleh para petani atau buruh tani saja, tetapi juga para perajin caping. Memasuki musim penghujan kali ini, permintaan caping meningkat hingga 100 persen daripada sebelumnya.

LAST_UPDATED2

Batik Madiun Mulai Menggeliat

E-mail Cetak PDF

MADIUN - Pengusaha batik tulis maupun batik cetak di Kota Madiun mulai bisa bernapas lega. Pasalnya, dalam sebulan terakhir order pemesanan batik mengalami kenaikan yang cukup signifikan."Sejak pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada awal Oktober lalu, pemesanan batik di tempat saya bisa naik hingga hampir tiga kali lipat," ujar perajin batik di Jalan Tuntang, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Siti Qomariah (60) kepada Waskita.

LAST_UPDATED2

Durian Meinhan bakal jadi buah unggulan Ngebel

E-mail Cetak PDF

Sudah bukan sesuatu yang baru bagi kita, kawasan telaga ngebel bukan hanya memiliki obyek wisata alam saja. Namun daerah ini juga memilki potensi alam yang tidak dimiliki daerah lain. Sebut saja durian, manggis, nangka, buah pundung. Bahkan dibidang pertanian, Ngebel memiliki potensi yang luar biasa, yakni cengkeh dan fanili.

 

untuk mengembangkan komodite buah durian yang mejjadi andalan warga, saat ini mulai ada pengembangan jenis durian Meinhan. Dipilih jenis durian ini karena selain memiliki rasanya lezat, durian jenis ini memiliki isi tebal dan buahnya besar. Sementara yang ada di ngebel selama ini durian jenis durian kanjeng, durian pisang serta meinhan itu sendiri.(*)

LAST_UPDATED2

Halaman 1 dari 5