Wednesday, Mar 10th

Last update:01:16:56 PM GMT



You are here: UKM UKM Manusia Kerdil, Berjalan Tanpa Kaki

Manusia Kerdil, Berjalan Tanpa Kaki

E-mail Cetak PDF

Ponorogo – Keterbatasan fisik tidak bisa menghalanginya untuk tetap bersemangat menatap hidup dan masa depan. Keterbatasan fisiknya justru membuat pria warga Blog Glunduk Dusun Muneng Desa Munggu kecamatan Bungkal Ponorogo lebih bersemangat menghadapi tantangan hidup. Dialah Kadimun 34, seoarang penderita cacat fisik yang disebabkan kelainan pertumbuhan tulang.  Pertumbuhan badannya tidak seperti orang kebanyakan, kaki dan tangannya mengecil dan badannya terlihat bungkuk, sehingga orang umum menyebutnya dia manusia kerdil.  
Keterbatasan fisiknya, tidak membuat Kadimun minder atau rendah diri, dirinya dengan ramah menyapa setiap orang yang dikenal atau pun yang baru di kenalnya. Itulah yang terkesan saat Waskita menyambangi rumahnya. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tercipta saat pertama dirinya menyapa Waskita.

Jangan dilihat dari fisiknya, meski dengan segala keterbatasan yang di milikinya Kadimun memeiliki keinginan dan semangat besar untuk lebih berarti bagi orang lain dan memebahagiakan orang lain. Tidak heran meskipun secara luas jarang di kenal orang, namun di Desa Munggu tidak ada seorangpun yang tidak mengenalinya. Mulai dari orang dewasa hingga anak kecil sekalipun sosok Kadimun adalah teman bagi mereka.

Di depan rumahnya, ia hanya bisa duduk di atas dua kaki kecilnya yang kaku itu, sambil berbincang-bincang dengan Waskita.  Ia  mulai bercerita panjang lebar kisah hidupnya, tanpa ada yang  ditutup-tutupi. Sembari tangannya tidak pernah berhenti bergerak mengerjakan pekerjaannya membuat dipan/lincak kecilnya.

Kadimun tidak merasa berbeda dari orang lain, bahkan kemampuannya mungkin lebih dibanding sebagian orang yang normal, dirinya menguasai berbagai keterampilan pertukangan dan kerajinan anyaman. “Apapun saya bisa mengerjakannya, cuma berjalan yang saya tidak bisa,” ujar kadimun diikuti tawa ranyahnya.

Di teras rumahnya itulah, anak ke tiga dari empat bersaudara pasangan Sawal dan Mariem selalu menghabiskan waktu untuk membuat karyanya, dengan peralatan sederhana yang sebagian dia buat sendiri. Sebuah palu dari kayu (pethel, Jawa), pahat, ballpoint serta tongkat bamboo yang berfungsi untuk mengambil sesuatu yang tidak bisa dijangkaunnya.

Pria yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah itu mengaku pernah membuat tas dari annyaman plastik, sangkar burung dan masih banyak lagi, namun karyanya itu dengan ikhlas diberikan kepada siapa saja yang membutuhkannya, bahkan dirinya menawarkan keahiannya kepada orang lain. “Semua orang itu sama, tidak ada bedanya meskipun keadaan saya seperti ini,” ujarnya ikhlas.

Kini setiap pagi Kadimun selalu sendiri, kedua orang tuanya harus rela meninggalkannya sendiri karena harus pergi ke sawah untuk mencari rumput. Untuk membunuh rasa sepi itu, Kadimun juga memelihara ikan sungai pemberian temannya di dalam kolam yang ia buat sendiri.  Sebenarnya, bukan hanya dia yang mengalami kelainan fisik, Rianti adik kandungnya juga mengalami hal yang sama, namun sudah meninggal tiga tahun yang lalu.

Awalnya, baik Rianti maupun Kadimun, dilahirkan dalam kondisi normal, entah apa penyebabnya pada usia 7 bulan pertumbuhan mereka berhenti. "Waktu dilahirkan mereka juga normal mas, namun pada umur 7 bulan perkembangannya berhenti, kemudian tidak bisa berjalan, " ujar Katinem yang sejak kecil merawat dua keponakanya itu.

Kadimun hidup dalam keluarga yang sederhana dari penghasilan sebagai petani. Ironisnya, hingga menginjak usia 35 tahun ini, dirinya mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apapun. "Belum pernah saya mendapat bantuan dari pemerintah mas, bahkan karena tidak memiliki KTP akhirnya pada pembagian BLT kemarin saya juga tidak dapat," ujarnya tanpa penyesalan.

Saat ditanya permintaan apa yang diharapkan kepada pemerintah, Kadimun hanya memiliki permintaan yang sederhana, yakni kursi roda. Alasanya dirinya pernah mau diberikan bantuan kursi roda, namun akhirnya gagal. Maka dari itu, hingga kini dirinya terus mengharap bantuan kursi roda itu "Saya hanya ingin kursi roda untuk berjalan, dulu pernah ada perangkat desa yang mengusahakan namun bantuan itu gagal, " paparnya berharap.

Meski dalam keadaan terbatas,  Kadimun tetap bersyukur, secara  rutin ia melakukan ibadah puasa Senin dan Kamis. Dalam doanya ia  meminta kepada Tuhan,  keselamatan dan selalu di beri kekuatan.  "Saya sering menjalankan puasa mas, saya meminta kepada tuhan agar di beri keselamatan, kesehatan dan kekuatan," tuturnya.

Sementara itu, Darminto Kepala Desa setempat yang ditemui terpisah, berharap agar pemerintah terkait tergugah untuk membantu Kadimun. "Diharapkan pemerintah atau dinas terkait tergugah untuk membantu Kadimun," terang Darminto. (hid).

Add comment


Security code
Refresh